OLEH: USTAZ MOHD. ZAIN MOHD. NOH

2. BAB: RIWAYAT-RIWAYAT YANG MENERANGKAN TENTANG HAR1 BERAWAN DAN SYAK

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ . أَخْرَجَاهُ هُمَا وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ

Dari Ibnu ‘Umar, dari Rasulullah ﷺ., ia bersabda: “Apabila kalian melihat bulan, maka berpuasalah, dan apabila kalian melihat bulan maka berharirayalah. Tetapi jika awan menutupi kalian, maka perkirakanlah dia.” (HR . Al-Bukhari, Muslirn, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

وَفِي لَفْظٍ : الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dan dalam satu lafaz -dikatakan-: “Bulan itu 29 malam. Kerana itu janganlah kalian berpuasa, sehingga kalian melihat bulan. Kemudian jika awan menutupi kalian, maka sempumakanlah bilangan (bulan Syaban) itu 30 hari.” (HR Al-Bukhari).

وَفِي لَفْظٍ أَنَّهُ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ : الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ : صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا ثَلَاثِينَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dan dalam satu lafalz-dikatakan-: Sesungguhnya pada waktu itu dituturkan kepadanya bulan Ramadhan, ialu ia berisyarat dengan tangannya sebagai berikut: “Bulan itu adalah begini, begini dan begini”. Kemudian mengaitkan ibu jarinya dalam isyarat yang ketiga itu – sambil ia bersabda – ” Berpuasalah kalian kerana melihat bulan dan berharirayalah kalian kerana melihat dia. Kemudian jika awan menutupi kalian, maka tentukanlah 30 hari“. (HR Muslim).

وَفِي رِوَايَةٍ أَنَّهُ قَالَ : إنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَأَحْمَدُ

Dan dalam satu riwayat (dikatakan): Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya bulan itu duapuluh sembilan hari. Oleh kerana itu janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat bulan, dan jangan pula kalian berhariraya sehingga kalian melihat dia. Kemudian jika awan menutupi kalian, maka perkirakanlah dia“. (HR Muslim).

وَأَحْمَدُ . وَزَادَ قَالَ نَافِعٌ : وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ إذَا مَضَى مِنْ شَعْبَانَ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا يَبْعَثُ مَنْ يَنْظُرُ فَإِنْ رَأَى فَذَاكَ وَإِنْ لَمْ يَرَ وَلَمْ يَحِلْ دُونَ مَنْظَرِهِ سَحَابٌ وَلَا قَتَرٌ أَصْبَحَ مُفْطِرًا وَإِنْ حَالَ دُونَ مَنْظَرِهِ سَحَابٌ أَوْ قَتَرٌ أَصْبَحَ صَائِمًا

Imam Ahmad (meriwayatkan hadis itu) dengan tambahan; Nafi’ berkata: Dan adalah Abdullah apabila bulan Sya’ban itu mencapai 29 hari, ia mengutus orang untuk mengintainya; kalau dia itu boleh melihat (tanggal 1 Ramadhan), maka itulah yang dijadikan pegangan, tetapi apabila dia tidak melihatnya sedang antara penglihatannya itu tidak tertutup oleh awan dan tidak pula tertutup oleh debu, maka Abdullah paginya tetap berbuka, tetapi jika antara penglihatannya itu tertutup oleh awan atau debu, maka paginya ia berpuasa.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غَبِيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Berpuasalah kalian kerana melihat bulan, dan berharirayalah kalian kerana melihat dia. Kemudian jika awan menutupi kalian, maka sempurnakanlah bilangan sya’ban itu 30 hari”. (HR Al-Bukhari).

وَمُسْلِمٌ وَقَالَ : فَإِنْ غَبِيَ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ

Dan Muslim mengatakan: “Kemudian jika awan menutupi kalian, maka hitunglah (Sya’aban) 30 hari”

وَفِي لَفْظٍ : صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ

Dan dalam satu lafaz (dikatakan): “Berpuasalah kalian kerana melihat bulan. Kemudian jika dia itu tidak nampak pada kalian maka hitunglah (Sya’ban) 30 hari.

وَفِي لَفْظٍ : إذَا رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ يَوْمًا . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَابْنُ مَاجَهْ وَالنَّسَائِيُّ

Dan dalam satu lafaz (dikatakan): “Apabila kalian melihat bulan, maka berpuasalah, dan apabila kalian melihat bulan (Syawal), Maka berharirayalah; kemudian jika awan menutupi kalian, maka hitunglah dia tigapuluh hari. (HR Ahmad, Muslim, Ibnu Majah dan An-Nasa’i).

وَفِي لَفْظٍ : صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ ثُمَّ أَفْطِرُوا . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

Dan dalam satu lafaz (dikatakan): “Berpuasalah kalian kerana melihat bulan dan berharirayalah kalian kerana melihat bulan; kemudian jika awan menutupi kalian, maka hitunglah dia tigapuluh hari, lalu berharirayalah.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi; dan At-Tirmidzi mengesahkannya).

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ سَحَابٌ فَكَمِّلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ ، وَلَا تَسْتَقْبِلُوا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالًا . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ بِمَعْنَاهُ وَصَحَّحَهُ

Dan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Bepuasalah kalian, kerana melihat bulan dan berharirayalah kalian kerana melihat bulan; kemudian jika antara kalian dan bulan itu ada awan yang menutupi, maka sempurnakanlah bilangan (bulan itu) tigapuluh harl; dan jangan kalian mendahului bulan itu.” (HR Ahmad, dan An-Nasa’i; dan At-Tirmidzi rneriwayatkan semakna dengan itu dan ia mengesahkannya),

وَفِيهِ فِي لَفْظٍ لِلنَّسَائِيِّ : فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ عِدَّةَ شَعْبَانَ . رَوَاهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي يُونُسَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْهُ

Dan dalam hal ini ada satu lafaz bagi Imam An-Nasa’i sebagai berikut: “Maka sempurnakanlah bilangan (Ramadhan) itu sama dengan bilangan Sya’ban“. (An-Nasa’i meriwayatkan hadis itu dari hadis Abu Yunus dan Samak dari Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas).

وَفِي لَفْظِ: لَا تَقَدَّمُوا الشَّهْرَ بِصِيَامِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ شَيْئًا يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ ، وَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ حَالَ دُونَهُ غَمَامَةٌ فَأَتِمُّوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ ثُمَّ أَفْطِرُوا . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

Dan dalam satu lafaz (dikatakan): “Janganlah kalian mendahului bulan (Ramadhan) itu dengan puasa sehari atau dua hari, melainkan jika ada sesuatu yang salah seorang di antara kalian itu perlu berpuasa; dan jangan pula kallan berpuasa sehingga kalian melihat bulan, kemudian berpuasalah hingga kalian melihat dia. Kemudian jika antara dia itu ada awan yang menutupinya, maka sempurnakanlah bilangan (bulan itu) tigapuluh hari, kemudian berharirayalah“. (HR .Abu Dawud).

- وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُهُ مِنْ غَيْرِهِ ، يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ . . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالدَّارَقُطْنِيّ وَقَالَ : إسْنَادٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dan dari ‘Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah ﷺ sangat mengingat-ingat (bilangan) bulan Sya’ban meiebihi ingatannya kepada bulan lainnya. Ia (mulai) berpuasa kerana melihat bulan Ramadhan. Kemudian jika bulan itu tertutup oleh awan, maka ia menghitungnya tigapuluh hari, kemudian ia berpuasa. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Daraquthni; dan Daraquthni berkata: Sanad hadis ini hasan — sahih)

وَعَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَقَدَّمُوا الشَّهْرَ حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ، ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ . ؛ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ

Dari dari Hudzaifah. ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ” Jangan kamu mendahului bulan itu hingga kamu melihat awal bulan, atau kamu menyempurnakan bilangan; kemudian berpuasalah kamu hingga melihat awal bulan atau menyempurnakan bilangan“. (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i).

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ : مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا أَحْمَدَ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَهُوَ لِلْبُخَارِيِّ تَعْلِيقًا

Dan dari ‘Ammar bin Yasir, ia berkata: Barangsiapa berpuasa pada hari yang masih diragukan (hari syak), maka berarti ia telah durhaka kepada Abul Qasim, Muhammad ﷺ (HR. Imam yang lima, kecuall Ahmad dan disahkan oleh At-Tirmidzi; dan hadis itu diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari secara mu’allaq).

Klik di sini untuk mengikuti audio kuliah di atas.

Related posts:

  1. KULIAH KITAB AS-SYAMAIL AL-MUHAMMADIYAH – Siri 25 OLEH: USTAZ IBRAHIM MOHD.RAJA Sambungan 43. PUASA RASULULLAH ﷺ Dari...
  2. KULIAH KITAB AS-SYAMAIL AL-MUHAMMADIYAH – Siri 24 OLEH: USTAZ IBRAHIM MOHD.RAJA Sambungan 41. SOLAT DHUHA RASULULLAH ﷺ...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.